Profile

Join date: Oct 26, 2022

About
0 Like Received
0 Comment Received
0 Best Answer

Sebuah Kota Kecil di Alaska Ialah Rumah untuk Museum Palu Pertama di Dunia



Kemungkinan tidak ada yang mengetahui riwayat alat itu lebih bagus dibanding kolektor Dave Pahl, yang buka kuil artefaknya di Haines 20 tahun kemarin.


Pikirkan sebuah palu. Peluangnya ialah alat yang tebersit dalam pemikiran mempunyai pegangan kayu—mungkin karet—mengarah ke kepala logam, dengan cakar ada di belakang. Anda punyai gambarnya? OKE. Saat ini lupakan saja—karena 2.500 palu (dengan 8.000 yang lain dalam penyimpanan) di Museum Hammer di Haines, Alaska, berlawanan dengan pengetahuan umum.


Museum empat kamar ini menjadi Tempat Bersejarah karena disini mencari asal mula alat pertama umat manusia lewat riwayat beratus-ratus tahun, dari jaman saat ini sampai jaman industri sampai jaman penjajahan dan tidak bisa dikenal kembali. Sebuah palu batu dipercaya oleh pakar paleontologi sudah membuat Piramida Menkaure di Mesir, tentara infanteri kapak perang Romawi yang dipakai sebagai senjata, palu billposter yang dipakai untuk memasangkan iklan, palu bankir dari akhir 1800-an dipakai untuk menggagalkan check saat sebelum timbulnya pemukul lubang, dan palu kecil minuman palu pengunjung bar di New York tahun 1960-an biasa panggil isi ulangi atau tawarkan tepok tangan digantung pada dinding dan istirahat di kotak kaca.


"Ada suatu hal untuk semuanya orang di sini di Museum Hammer," kata Dave Pahl, pendiri museum dan kolektor sepanjang umur. Koleksinya memperlihatkan jika tiap karier, pada sebuah tempat di sejauh garis, memakai palu tertentu. "Semuanya orang memakai palu, tapi beberapa dari kita bahkan juga tidak mengetahui berapa kerap, atau di mana kita akan ada tanpa palu."


Pahl, yang dari Ohio, tiba ke Alaska di tahun 1980 menjadi seorang wisma. Ia dan istrinya tinggal di Haines, sebuah kota kecil dengan penduduk sekitaran 2.000 orang di Alaska Tenggara, di mana mereka membuat kabin off-grid dan memperbesar anak-anak mereka dalam pola hidup swasembada. Minatnya pada alat memotivasinya untuk kumpulkan palu di pemasaran real estat dan, selanjutnya, di eBay. "Berlibur keluarga ialah memburu palu," kata Pahl sekalian tersenyum menyipitkan mata. Pada akhirnya, koleksi pribadinya melewati tempat tinggalnya.


"Kami mempunyai rumah kayu satu kamar yang kami tinggali, dan saya mempunyai palu yang bergantung di semua dinding," kata Pahl. "Selanjutnya gedung ini dipasarkan, dan saya mendapatkan banyak penekanan dari [istri saya] Carol untuk keluarkan beberapa palu ini dari rumah. Ia mulai capek bersihkan debu. "


Di tahun 2002, Pahl buka apa yang selanjutnya jadi "salah satu museum palu di dunia" dalam suatu pondok simpel selebar 1.200 kaki persegi dengan dinding putih dan hiasan hijau. Sepanjang 20 tahun akhir, Pahl akui sudah terima kolektor serius dari penjuru dunia, terhitung Lithuania, Ukraina, dan Australia. Seorang rekan Lituania sudah buka museum palunya sendiri di Linkmenys, yang disebutkan Plaktuku Ekspozicija atau "Museum Palu", dengan koleksi yang sedikit besar. "Saat tersebut kami berpindah ke 'yang pertama di dunia,'" kata Pahl sekalian ketawa. The Frohnauer Hammer, museum hammer mill era ke-17 di Frohnau, Jerman, sudah menyongsong pengunjung semenjak 1953. Dalam pada itu, kolektor individu Scotty Fulton mengurus Museum Fulton Hammer tidak resmi di Maysville, Kentucky, di mana dia menempatkan sekitaran 21.000 palu dalam suatu bangunan dari sisi tempat tinggalnya.


Tetapi yang membandingkan koleksi Pahl ialah 2.500 document paten yang dipunyainya yang memperlihatkan ke pengunjung dengan tepat bagaimana tiap penemu berniat memakai alat mereka. "Ia mempunyai semua info," kata Fulton. "Ia mendapatkan keuntungan di situ, sehingga ia dapat memberi semakin banyak detil mengenai palu. Bila ada yang [pakar], Dave ialah. Dan ia memakai palunya, hidup di alam liar di Alaska."


Haines terima jalan raya kapal pesiar di bulan-bulan musim panas, yang membuat museum kota kecil (satu dari 4 di Haines dan dusun tetangganya, Klukwan, warga asli Alaska) masih tetap bekerja. Untuk mengundang perhatian orang berjalan kaki, Pahl membuat palu dengan tinggi 19 kaki dan memasangkannya di halaman di muka museum di tahun 2007. "Kedatangan kami di pintu langsung bertambah 25 % hari itu," ucapnya. "Dan itu tak pernah kembali semenjak itu." Pada bulan-bulan musim dingin, dia menghias patung iconic dengan lampu Natal.


Pahl menjelaskan jika sekitaran 8.000 pengunjung luar kota tiap tahunnya sudah menolong bukan hanya jaga museum masih tetap bertahan, tapi juga berperan secara berarti pada koleksinya.


"Barang-barang terbaik di sini sudah disembahkan oleh pengunjung kami," ucapnya, terhitung lajur perakitan komplet dari perusahaan pembikin gagang palu tahun 1880-an. "Mereka tiba, dan kemungkinan satu tahun selanjutnya, mereka akan ke obralan garasi dan mereka akan menyaksikan suatu hal, atau mereka akan mengenali seorang." Di tahun 2018, koleksi museum semakin bertambah sekitar 1.600 palu sesudah Jim Ingin, seorang kolektor dari Phoenix, Arizona, wafat dan keluarganya menyumbang koleksinya—bersama dengan " timbunan bahan rekomendasi dari lantai ke langit-langit."


Masyarakat kota dengan senang akan memberitahu Anda jika museum itu diperlihatkan pada acara kuis "Jeopardy!" di tahun 2016 di bawah kelompok "Museum Offbeat." Jenna Kunze


Dalam beberapa hal, museum kecil sudah tempatkan Haines, Alaska, di peta. Masyarakat kota dengan senang akan memberitahu Anda Koleksi Museum Moja itu diperlihatkan pada acara kuis "Jeopardy!" di tahun 2016 di bawah kelompok "Museum Offbeat." Panduan $200: "Haines, museum alat ini di Alaska tampilkan pameran mengenai pembikinan pegangan dan '5 langkah tidak untuk memukul jemari Anda.'"


Pahl dikenali sebagai salah satunya kolektor palu terpenting di dunia, dan menarik pertanyaan teratur dari semuanya orang dimulai dari anak-anak yang ingin mengenali palu untuk project sekolah sampai professional dari History Kanal yang minta anjuran pakar mengenai palu mana yang hendak dipakai untuk peragaan ulangi. Di tahun 2004, David Shayt, almarhum kurator di seksi kerja dan industri Museum Nasional Riwayat Amerika, minta Pahl untuk menolongnya mengenali palu tertentu dalam koleksi Smithsonian sepanjang lawatan individu. Putra Pahl yang berumur 10 tahun bisa mengonfirmasi salah satunya alat sebagai palu yang dipakai untuk tutup kembali tutup kotak cerutu, ingat kolektor. Dan baru bulan kemarin Pahl mengeluarkan sendiri sebuah buku dengan tebal 200 halaman, The Improved Hammer: A Guide to the Identification, History and Evolutions of the Hammer, tersebut sintesis dari riset dan kisah hidupnya sepanjang tahun, komplet dengan gambar pindaian paten untuk mengilustrasikan tiap palu. Salah satunya pengulas, seorang kolektor di Oregon, mengatakan "alkitab palu baru" dalam e-mail ke Pahl. Fulton menjelaskan itu ialah buku terbaik mengenai palu yang sempat ia temui—"benar-benar informatif."


Nafsu Pahl untuk palu menyebar. Pada bagian belakang museum, ia mempersembahkan pojok untuk kreasi seni yang di inspirasi oleh alat itu, terhitung puisi yang ia catat mengenai tangan palu palsu dalam koleksinya. Ia membacanya lewat seringai gigi: " Handy Dan kehilangan tangannya dan ia terbujur untuk beberapa waktu / Tapi dengan doa dan dengan karunia ia membuat pencapitnya / Ia kembali bekerja dengan senyum..."


Keinginan Pahl, ucapnya, ada dua: untuk melestarikan riwayat palu, sementara menggerakkan beberapa orang muda yang terlahir di dunia mekanisasi untuk "jadi sedikit aktif" dan menjaga pemakaiannya.


"Itu betul-betul faktor pendiri museum ini," kata Pahl. "Minat saya pada 'do-it-yourself,' dan saya masih do-it-yourselfer."

Jayden Henry

More actions